Gigi Kelinci (Makrodontia): Jenis, Penyebab, dan Perawatan

Breadcrumb

Konon, bentuk gigi dapat membuat seseorang terlihat cantik. Terutama ketika orang tersebut tersenyum. Ada berbagai macam bentuk gigi yang dimiliki oleh kebanyakan orang, salah satunya gigi kelinci.

Bagi sebagian orang gigi kelinci terlihat unik dan lucu. Namun, terkadang ada pula yang merasa kurang percaya diri karena bentuk giginya ini. Padahal, gigi kelinci atau bunny teeth sempat menjadi tren di kalangan masyarakat Indonesia.

Lantas, apakah gigi kelinci ini merupakan hal normal? Yuk, ulik lebih jauh mengenai gigi kelinci dalam ulasan PUTIH Dental berikut!

Apa Itu Gigi Kelinci?

Dilansir Healthline, gigi kelinci adalah kondisi ketika gigi berukuran lebih kecil dari rata-rata seharusnya. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut sebagai makrodontia.

Dalam banyak kasus, makrodontia ini memiliki akar yang kecil, sedangkan mahkotanya mungkin mendekati ukuran normal. Kondisi ini umumnya terjadi pada satu atau dua gigi depan di rahang atas. Perbedaan ukuran inilah yang membuat kedua gigi tersebut terlihat seperti milik kelinci.

Makrodontia bukanlah suatu masalah gigi serius yang perlu dikhawatirkan. Bahkan, bisa dibilang seseorang yang mempunyai gigi kelinci memiliki ciri khas yang unik.

Jenis Gigi Kelinci atau Makrodontia

Menurut Healthline dan beberapa sumber lainnya, ada beberapa jenis gigi kelinci. Berikut uraian lebih jelasnya.

  • Localised microdontia. Kondisi ini menggambarkan satu gigi yang ukurannya lebih kecil daripada biasanya. Umumnya, localized microdontia sendiri terjadi pada gigi yang berada di rahang atas. Adapun bagian gigi yang umumnya mengalami hal ini yaitu gigi seri lateral atas atau molar ketiga. Penyebabnya bisa karena hemiatrofi wajah atau ketika satu sisi wajah lebih kecil. Selain itu, bisa pula karena adanya gigi ekstra.
  • Truly generalised microdontia. Jika localized microdontia hanya terjadi pada satu gigi, tapi tidak dengan truly generalized microdontia. Pada kondisi ini, seluruh gigi pada satu bagian mulut bisa berukuran lebih kecil dan seragam. Berkat keunikan tersebut, kondisi ini disebut sebagai yang paling langka. Adapun penyebabnya umumnya karena dwarfisme hipofisis atau perawakan pendek. Selain itu, bisa juga karena efek pengobatan kemoterapi maupun radiasi selama masa tumbuh gigi.
  • Relatively generalised microdontia bisa dibilang hanyalah ilusi. Pasalnya, kondisi ini umumnya terjadi pada seseorang yang punya rahang besar atau menonjol sehingga giginya terlihat kecil. Terkadang ada pula yang menyebut kondisi ini sebagai gigi kelinci palsu.

Penyebab Gigi Kelinci atau Makrodontia

Gigi kelinci asli dapat terjadi karena banyak faktor, mulai dari genetik hingga efek pengobatan. Untuk lebih jelasnya, berikut uraiannya.

  • Genetik menjadi faktor utama seseorang memiliki gigi kelinci. Mutasi genetik dapat mengatur pertumbuhan gigi sehingga bisa membuat atau dua gigi di bagian bagian atas depan berukuran lebih kecil dan panjang.
  • Dwarfisme hipofisis turut menjadi penyebab gigi kelinci. Ini adalah kondisi di mana seseorang memiliki perawakan pendek atau kerdil. Kondisi ini membuat seluruh gigi pengidapnya berukuran kecil.
  • Down syndrome. Menurut studi dari American Academy of Pediatric Dentistry, seseorang dengan down syndrome umum mengalami kelainan pada gigi. Terkait gigi kelinci, kebanyakan penderita down syndrome mengalami truly generalized microdontia seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
  • Efek kemoterapi atau radiasi. Seorang bayi atau balita yang menjalani kemoterapi atau terpapar radiasi dapat mengalami mikrodontia. Walau begitu, perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.
  • Anemia fanconi. Penderita anemia fanconi memiliki sumsum tulang yang tidak menghasilkan sel darah merah dalam jumlah cukup. Hal tersebut berpotensi memicu kelelahan. Karena itu, mereka mungkin mengalami kelainan fisik, misalnya menjadi lebih pendek serta punya gigi kelinci.
  • Sindrom Williams merupakan kelainan genetik yang dapat memengaruhi perkembangan wajah penderitanya. Kondisi ini bisa membuat gigi berjarak dan mulut lebar.
  • Sindrom Turner atau biasa dikenal sebagai sindrom Ullrich-Turner. Ini adalah kelainan kromosom yang umumnya menyerang wanita. Kondisi ini ditandai dengan gigi yang berukuran kecil, perawakan pendek, hingga mengalami cacat jantung.

Komplikasi yang Mungkin Terjadi karena Gigi Kelinci

Walau sebenarnya tidak berbahaya, tapi gigi kelinci manusia atau makrodontia dapat menyebabkan beberapa komplikasi pada mulut atau bagian lain di sekitarnya. Gigi kecil yang berukuran panjang bisa menyembul keluar sehingga membuat seseorang sulit menutup mulut rapat-rapat.

Hal ini juga dapat membuat seseorang kesulitan mengunyah makanan. Secara tidak langsung, mereka akan mengalami masalah pencernaan.

Di luar itu, seseorang yang punya gigi kelinci terlalu panjang akan kesulitan bicara karena risiko lidah tergigit. Ukuran gigi yang tidak rata pun dapat menyebabkan gangguan pada persendian atau tulang sekitar rahang.

Lebih lanjut, gigi yang tumbuh tidak normal di sisi pipi mungkin sulit dibersihkan. Lambat laun, kondisi ini berisiko memicu kerusakan gigi.

Perawatan untuk Gigi Kelinci atau Makrodontia

Gigi kelinci bukanlah masalah serius, selama tidak menimbulkan komplikasi. Namun, apabila kamu peduli dengan kecantikan, maka beberapa perawatan atau cara mengatasi gigi kelinci berikut bisa dicoba.

  • Composite atau dental bonding. Pada metode ini, dokter gigi akan mengoleskan resin komposit ke permukaan gigi kelinci. Setelah mengeras, maka ukuran gigi kelinci bisa seperti ukuran gigi normal. Menariknya, selain untuk estetika, perawatan ini dapat melindungi gigi dari keausan akibat ukuran gigi yang tidak sesuai.
  • Pemasangan mahkota gigi atau crown. Dokter mungkin akan menyarankan pemasangan mahkota atau crown pada gigi kelinci. Cara ini dilakukan dengan menempelkan mahkota gigi palsu ke mikrodontia.
  • Veneer gigi. Dilansir Healthline, veneer adalah cangkang tipis yang berwarna seperti gigi. Apabila dipasang pada gigi kelinci, cangkang ini bisa membuat ukurannya seperti normal. Namun, dalam pemasangannya, mungkin perlu mencabut beberapa gigi agar ukurannya pas.
  • Recontouring gigi. Kalau ingin gigi kelinci berukuran lebih besar, coba lakukan recounturing. Prosedur ini dilakukan oleh dokter dengan mengikis enamel untuk memperhalus dan memperbaiki ukuran gigi. Alhasil, gigi kelinci bisa terlihat lebih pas dan sesuai dengan gigi lainnya.

Walau dinilai efektif, tapi prosedur ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Terutama untuk mereka yang memiliki masalah gigi sensitif.

Itulah ulasan mengenai apa itu gigi kelinci atau dalam medis disebut sebagai mikrodontia.

Apakah kamu memiliki gigi kelinci? Jika iya, apakah tertarik untuk memperbaiki bentuknya? Untuk perawatannya, silakan kunjungi dan berkonsultasi di klinik gigi terbaik, ya.