
Momen gigi susu pertama copot adalah salah satu tonggak penting dalam perkembangan anak. Bagi para orang tua, mungkin muncul banyak pertanyaan: kapan seharusnya ini terjadi? Apakah ada hal yang perlu dikhawatirkan? Jangan khawatir, artikel ini akan membahas tuntas semua yang perlu kamu ketahui tentang gigi susu anak yang mulai copot.
Kenapa Gigi Susu Harus Copot?
Gigi susu, atau gigi primer, memiliki peran krusial dalam perkembangan anak. Meskipun sifatnya sementara, gigi susu membantu anak mengunyah makanan, berbicara dengan jelas, dan membentuk ruang yang tepat untuk gigi permanen yang akan tumbuh di bawahnya.
Namun, seiring bertambahnya usia, gigi susu akan copot. Proses ini terjadi secara alami. Di bawah gusi, gigi permanen mulai tumbuh dan mendorong akar gigi susu di atasnya. Kemudian, akar gigi susu akan menipis dan menghilang, membuat gigi susu berangsur longgar dan copot. Ini adalah bagian dari proses pertumbuhan dan perkembangan yang sehat.
Baru-baru ini, jagat maya juga sempat dihebohkan dengan kabar gigi susu salah satu anggota girl group K-Pop UNIS, Seowon, yang copot saat tampil di panggung. Momen ini menarik perhatian banyak penggemar karena menunjukkan bahwa meskipun seorang idol, Seowon tetaplah anak-anak yang sedang mengalami fase perkembangan alami ini.
Gigi copot adalah hal normal yang akan terjadi pada fase tumbuh kembang anak, sehingga penting bagi orang tua untuk dapat memahami semua proses dan tahapannya.
Baca Juga: 6 Ciri-ciri Anak Tumbuh Gigi dan Tahapan Pertumbuhan Gigi Anak
Kapan Waktu Normal Gigi Susu Anak Copot?
Setiap anak adalah individu yang unik, dan waktu gigi susu copot bisa sedikit berbeda. Namun, ada rentang usia umum yang bisa dijadikan panduan. Secara umum, gigi susu mulai copot pada usia sekitar 6 hingga 7 tahun, dan proses ini biasanya berlanjut hingga anak berusia sekitar 12 hingga 13 tahun.
Berikut adalah perkiraan urutan dan waktu copotnya gigi susu:
- Gigi Seri Tengah Bawah (Lower Central Incisors): Biasanya copot antara usia 6 hingga 7 tahun.
- Gigi Seri Tengah Atas (Upper Central Incisors): Menyusul sekitar usia 6 hingga 8 tahun.
- Gigi Seri Samping Bawah (Lower Lateral Incisors): Antara usia 7 hingga 8 tahun.
- Gigi Seri Samping Atas (Upper Lateral Incisors): Umumnya antara usia 7 hingga 9 tahun.
- Gigi Geraham Pertama (First Molars): Sekitar usia 9 hingga 11 tahun.
- Gigi Taring (Canines): Biasanya antara usia 9 hingga 12 tahun.
- Gigi Geraham Kedua (Second Molars): Ini adalah gigi susu terakhir yang copot, umumnya pada usia 10 hingga 12 tahun.
Ingatlah bahwa ini adalah perkiraan. Beberapa anak mungkin mengalami gigi copot lebih awal atau sedikit lebih lambat dari rata-rata. Jika kamu memiliki kekhawatiran tentang waktu copotnya gigi susu si kecil, sebaiknya konsultasikan dengan dokter gigi.
Baca Juga: Berapa Jumlah Gigi Anak dan Cara Merawat Gigi Anak
Apa yang Harus Dilakukan Saat Gigi Anak Mulai Goyang?
Ketika gigi anak mulai goyang, ini bisa menjadi pengalaman yang menarik dan terkadang sedikit menakutkan bagi mereka. LAkukan beberapa hal ini ketika saat itu tiba.
1. Biarkan Gigi Copot Secara Alami
Sebaiknya biarkan gigi yang goyang copot dengan sendirinya. Kamu mungkin perlu meyakinkan anak untuk menggoyangkan gigi mereka dengan lidah atau jari yang bersih. Jangan mencabut gigi anak dengan paksa sebelum waktunya. Melakukan hal itu bisa menimbulkan rasa sakit, pendarahan berlebihan, atau bahkan infeksi.
2. Ajarkan Kebersihan Tangan
Pastikan anak mencuci tangan dengan bersih sebelum menyentuh gigi yang goyang. Ini penting untuk mencegah masuknya bakteri ke area gusi yang terbuka setelah gigi copot.
3. Siapkan Tisu atau Kain Bersih
Saat gigi copot, kemungkinan akan ada sedikit pendarahan. Cukup siapkan tisu bersih atau kain kasa dan tekan lembut area yang berdarah selama beberapa menit hingga pendarahan berhenti.
4. Kurangi Nyeri (Jika Ada)
Jika anak merasa sedikit nyeri atau tidak nyaman, kamu bisa memberikan pereda nyeri yang dijual bebas untuk anak-anak, seperti parasetamol atau ibuprofen, sesuai dosis yang dianjurkan. Kompres dingin pada area pipi juga dapat membantu.
5. Jaga Kebersihan Mulut
Pastikan anak tetap menjaga kebersihan mulut. Sikat gigi secara perlahan di sekitar area yang kosong dan lanjutkan flossing seperti biasa. Berkumur dengan air garam hangat beberapa kali sehari dapat membantu membersihkan area dan mengurangi risiko infeksi. Campurkan sekitar setengah sendok teh garam ke dalam segelas air hangat.
6. Kunjungan ke Dokter Gigi
Gigi susu biasanya akan tanggal tanpa perlu bantuan. Akan tetapi, bila gigi susu tak kunjung goyang, ada baiknya periksakan kondisi gigi anak ke dokter gigi. Sebab, dokter gigi dapat memantau perkembangan gigi permanen dan memastikan tidak ada masalah yang mendasari. Jika gigi tidak copot pada waktunya, atau jika ada keluhan nyeri atau bengkak yang tidak biasa, segera hubungi dokter gigi.
Baca Juga: Tambal Gigi Anak: Pentingnya Merawat Kesehatan Gigi Si Kecil Sejak Dini
Tanda-tanda Gigi Permanen akan Tumbuh
Setelah gigi susu copot, gigi permanen akan segera menyusul. Ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa gigi permanen sedang dalam perjalanan:
- Munculnya Benjolan di Gusi: Terdapat benjolan kecil di gusi tempat gigi permanen akan tumbuh.
- Gigi Permanen Tumbuh di Belakang Gigi Susu: Kadang-kadang, gigi permanen mulai tumbuh sebelum gigi susu di depannya copot sepenuhnya, menciptakan tampilan “gigi hiu”.
- Ukuran dan Bentuk Gigi yang Berbeda: Gigi permanen akan terlihat lebih besar dan mungkin memiliki bentuk yang sedikit berbeda dari gigi susu. Warna gigi permanen juga cenderung sedikit lebih kuning.
Dengan memahami kapan gigi susu copot dan merawatnya dengan baik, kamu telah membantu memastikan anak memiliki senyum sehat seumur hidup. Ajak si kecil memeriksakan gigi dan mulutnya tanpa rasa takut bersama Klinik Gigi PUTIH Dental.
Tak perlu khawatir, anak akan tetap merasa nyaman dengan layanan khusus PUTIH Junior yang hadir untuk memberikan perawatan gigi terbaik bagi si kecil! Kamu dapat menikmati layanan ini di seluruh cabang Klinik Gigi PUTIH Dental yang tersedia di Puri Kembangan (Jakarta Barat), Pantai Indah Kapuk (Jakarta Utara), serta Cikajang (Jakarta Selatan).